Rabu, 05 Februari 2020

Analisis Lingkungan Mobilitas Sosial : Zifa

GAMBAR 1
Gambar disamping merupakan contoh dari Mobilitas Fisik. Ia adalah Nauza. Nauza dalam hidupnya telah melakukan mobilitas fisik. Ia merupakan gadis asli Madiun yang melakukan perpindahan tempat kediaman dalam hubungannya dengan alat transportasi dan lalu lintas modern. Ia pindah ke Tuban pada tahun 2015 saat ia memasuki SMP. Sebelum ia bersekolah di SMA Negeri 1 Tuban, ia bersekolah di SMP Negeri 2 Tuban. Ia melakukan perpindahan tempat kediaman karena ayahnya yang memiliki keinginan untuk tinggal di Tuban untuk menjaga rumah neneknya.

Analisis : Dalam perjalanan hidupnya, Nauza melakukan saluran Faktor Kependuukan (Demografi). Ia melakukan perpindahan tempat tinggalnya ke Tuban untuk menduduki lapisan yang lebih tinggi. Alasan ayahnya pindah juga karena padatnya kota Madiun pada saat itu. 
Konsekuensi positif yang terjadi adalah akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial ke arah yang lebih baik. Mobilitas sosial mendorong masyarakat untuk mengalami perubahan sosial ke arah yang yang diinginkan.

GAMBAR 2
Gambar disamping merupakan contoh Mobilitas Horizontal Intragenerasi. Beliau adalah Bu Cherin. Beliau bekerja di SMA Negeri 1 Tuban di bagian staf tata usaha (TU) sebagai penginput data administrasi siswa. Sebelum bekerja, beliau bersekolah di SMA Negeri 5 Tuban. Setelah lulus sekolah, ia langsung bekerja di Badan Pusat Statistika (BPS) Tuban sebagai pengentry data. Setelah itu, ia berkuliah di Unang (Universitas Sunan Bonang) jurusan hukum. Lalu ia mencoba melamar di SMA Negeri 1 Tuban dan mengikuti beberapa tes, dan akhirnya beliau diterima dan ditempatkan sebagai Staff Tata usaha sebagai penginput data administrasi siswa. 

Analisis :  Dalam perjalanan hidupnya, Bu Cherin melakukan Mobilitas Horizontal Intragenerasi karena ia mencoba memperbaiki nasibnya. Mobilitas horizontal intragenerasi adalah perpindahan status sosial yang dialami seseorang secara mendatar dalam lapisan sosial yang sama. Mobilitas sosial horizontal ini memberi kemungkinan perubahan dalam pekerjaan dan atau kedudukan yang tidak bersifat sebagai suatu pergeseran dalam hierarki sosial. Bu Cherin dari awal pekerjaannya selalu ditempatkan sebagai penginput data/ pengentry data.
Proses yang terjadi adalah Penerimaan. Bu Cherin telah mendapat nilai tambah yang dibutuhkan syarat-syarat pendidikan, baik itu melalui sekolah dan perguruan tinggi umum, maupun melalui latihan dinas intern dalam jawatan, kantor maupun perusahaan. 
Saluran yang terjadi adalah Lembaga Pendidikan. Bu Cherin melakukan mobilitas horizontal intragenerasi lewat sekolah.
Faktor yang terjadi adalah Status Sosial. Bu Cherin ingin berusaha meningkatkan statusnya demi perbaikan dan kesejahteraan hidupnya.
Konsekuensi positifnya adalah Bu Cherin dapat merasakan kepuasan apabila dapat mencapai kedudukan yang diinginkannya atau dapat meningkatkan kedudukan sosialnya dalam masyarakat.

GAMBAR 3
Gambar disamping adalah contoh Mobilitas Vertikal Antargenerasi. Beliau adalah Pak Sugianto atau biasa dipanggil Pak Sugik. Beliau bekerja di bagian Staf Tata Usaha sebagai Penginput Buku Induk Siswa. Sebelum bekerja, ia bersekolah di SMK Taruna Jaya Prawira Tuban. Beliau pergi ke sekolah menggunakan sepeda ontel karena keadaan ekonomi orang tuanya yang tidak mampu. Beliau juga jarang diberi uang sangu oleh orang tuanya. Namun, beliau cukup akrab dengan guru-guru di sekolahnya hingga guru-gurunya sering memberi beliau uang sangu. Setelah lulus dari SMK Taruna Jaya Perwira Tuban, beliau langsung diterima untuk bekerja sebagai guru di SMK Taruna Jaya Perwira Tuban. Akhirnya, Pak Sugik dibawa oleh Pak Bambang Sudji (Kepala SMA Negeri 1 Widang) untuk bekerja di SMA Negeri 1 Tuban saat kepala di SMA Negeri 1 Tuban masih Bu Prapti.

Analisis :  Dalam perjalanan hidupnya, Pak Sugik telah melakukan mobilitas vertikal antargenerasi. Miobilitas vertikal antargenerasi adalah peralihan individu dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan lainnya yang tidak sederajat yang terjadi antara dua generasi atau lebih. Dikatakan Pak Sugik telah melakukan mobilitas vertikal antargenerasi karena kedudukan orang tua Pak Sugik adalah sepasang yang tidak berpendidikan dan miskin, tetapi Pak Sugik berhasil menjadi seorang guru di SMA Negeri 1 Tuban yang sukses.
Proses yang terjadi adalah penerimaan. Pak Sugik telah mendapat nilai tambah yang dibutuhkan syarat-syarat pendidikan, baik itu melalui sekolah dan perguruan tinggi umum, maupun melalui latihan dinas intern dalam jawatan, kantor maupun perusahaan.
Saluran yang terjadi adalah Lembaga Pendidikan. Pak Sugik melakukan mobilitas horizontal intragenerasi lewat sekolah.
Faktor yang terjadi adalah Status Sosial. Pak Sugik ingin berusaha meningkatkan statusnya demi perbaikan dan kesejahteraan hidupnya dan orang tuanya.
Konsekuensi positifnya adalah Pak Sugik dapat merasakan kepuasan apabila dapat mencapai kedudukan yang diinginkannya atau dapat meningkatkan kedudukan sosialnya dalam masyarakat.

GAMBAR 4
Gambar disamping adalah contoh Mobilitas Horizontal Intragenerasi. Beliau adalah Bu Hana. Beliau bekerja di SMA Negeri 1 Tuban di bagian Staf Tata Usaha (TU) sebagai bendahara sekolah. Beliau merupakan lulusan SMA Negeri 1 Tuban. Setelah lulus, beliau melanjutkan pendidikannya D1 di STIE Muhammadiyah Malang. Beliau menikah saat bekerja di Bank Perkreditan Rakyat Mentari Terang sebagai pemegang tabungan deposito tahun 2002-2005. Beliau melanjutkan karirnya di keuangan ketika tahun 2006-pertengahan 2010 di Koperasi Gemah Ripah. Beliau merintis sampai 3 cabang di Pare, Kediri, dan Rengel. Lalu beliau melanjutkan karirnya dengan melamar di SMA Negeri 1 Tuban dan beliau mendapat panggilan dari SMA Negeri 1 Tuban untuk mengumumkan penerimaannya. Beliau ditempatkan di bagian keuangan di SMA Negeri 1 Tuban, meskipun beliau agak bosan tetapi beliau tetap bersyukur.

Analisis : Dalam perjalanan hidupnya, Bu Hana melakukan Mobilitas Horizontal Intragenerasi karena ia mencoba memperbaiki nasibnya. Mobilitas horizontal intragenerasi adalah perpindahan status sosial yang dialami seseorang secara mendatar dalam lapisan sosial yang sama. Mobilitas sosial horizontal ini memberi kemungkinan perubahan dalam pekerjaan dan atau kedudukan yang tidak bersifat sebagai suatu pergeseran dalam hierarki sosial. Bu Hana dari awal pekerjaannya selalu ditempatkan sebagai pemegang uang hingga saat ini.
Proses yang terjadi adalah Penerimaan. Bu Hana telah mendapat nilai tambah yang dibutuhkan syarat-syarat pendidikan, baik itu melalui sekolah dan perguruan tinggi umum, maupun melalui latihan dinas intern dalam jawatan, kantor maupun perusahaan. 
Saluran yang terjadi adalah Lembaga Pendidikan. Bu Hana melakukan mobilitas horizontal intragenerasi lewat sekolah.
Faktor yang terjadi adalah Status Sosial. Bu Hana ingin berusaha meningkatkan statusnya demi perbaikan dan kesejahteraan hidupnya.
Konsekuensi positifnya adalah Bu Hana dapat merasakan kepuasan apabila dapat mencapai kedudukan yang diinginkannya atau dapat meningkatkan kedudukan sosialnya dalam masyarakat.

GAMBAR 5 
Gambar disamping adalah contoh mobilitas horizontal antargenerasi. Beliau adalah Pak Mahfud. Beliau adalah seorang guru PKN di SMA Negeri 1 Tuban dan guru di jurusan Teknik Kendaraan Otomotif SMK YPM 12 Tuban. Beliau juga seorang pembina ekskul PASGASSUS di SMA Negeri 1 Tuban. Sebelum menjadi guru, beliau bersekolah di suatu Madrasah di Tuban dekat Masjid Agung. Setelah lulus, beliau melanjutkan kuliah di Universitas Jember dan melakukan ending di Universitas Ronggolawe jurusan PPKN. Baru setelah itu beliau melanjutkan karir sebagai guru PKN di SMA Negeri 1 Tuban. Almarhum ayah dari Pak Mahfud adalah seorang kyai yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Tuban. Pak Mahfud memiliki kebun belimbing di dekat rumahnya di Tasikmadu.
Analisis : Dalam perjalanan hidupnya, Pak Mahfud melakukan Mobilitas Horizontal Antargenerasi karena ia mencoba memperbaiki nasibnya. Mobilitas horizontal antar generasi adalah perpindahan status sosial yang dialami seseorang secara mendatar dalam lapisan sosial yang sama yang terjadi antara dua generasi atau lebih. Mobilitas sosial horizontal ini memberi kemungkinan perubahan dalam pekerjaan dan atau kedudukan yang tidak bersifat sebagai suatu pergeseran dalam hierarki sosial.
Proses yang terjadi adalah Penerimaan. Pak Mahfud telah mendapat nilai tambah yang dibutuhkan syarat-syarat pendidikan, baik itu melalui sekolah dan perguruan tinggi umum, maupun melalui latihan dinas intern dalam jawatan, kantor maupun perusahaan. 
Saluran yang terjadi adalah Lembaga Pendidikan. Pak Mahfud melakukan mobilitas horizontal intragenerasi lewat sekolah.
Faktor yang terjadi adalah Status Sosial. Pak Mahfud ingin berusaha meningkatkan statusnya demi perbaikan dan kesejahteraan hidupnya.
Konsekuensi positifnya adalah Pak Mahfud dapat merasakan kepuasan apabila dapat mencapai kedudukan yang diinginkannya atau dapat meningkatkan kedudukan sosialnya dalam masyarakat. 

Zifa Muzadida D'amano (35)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar